Ilustrasi peta dunia. Shutterstock/tovovan
Di masa lalu, Sobat Valid tentu tidak asing lagi dengan labelisasi bahwa Dunia Timur adalah ramah, sopan dan tradisional sedangkan Dunia Barat dikenal lebih intelektual, terbuka dan modern. Persepsi ini diperkuat akibat doktrinisasi pembelajaran di sekolah-sekolah. Memang tidak ada salahnya menciptakan persepsi seperti itu karena memang faktanya demikian, meskipun tidak serta merta 100% sesuai.
Dikotomi Timur-Barat dalam pemberitaan di media-media sering juga digunakan dengan istilah Negara Barat dan Negara Timur. Contohnya saja dalam perang Ukraina dan Perang Gaza yang berkecamuk saat ini, dikotomi Timur-Barat mencuat kembali dimana pihak yang mendukung Ukraina dan Israel disebut Negara Barat dan sebaliknya yang mendukung Rusia dan Palestina diibaratkan sebagai Negara Timur.
Dari hal tersebut, seakan-akan dunia ini hanya terpolarisasi menjadi dua kubu saja yaitu Timur-Barat. Sebenarnya apa sih yang disebut dengan dikotomi Barat dan Timur tersebut?
Apakah dikotomi itu menyangkut letak geografis atau ada faktor lain yang melatar belakangi istilah tersebut muncul?
Beberapa sejarawan mengungkapkan bahwa istilah Timur-Barat muncul akibat persepsi perbedaan antara kebudayaan timur dan kebudayaan barat. Selain itu modernisasi juga berperan penting dalam memunculkan dikotomi ini meskipun masih banyak dipertentangkan oleh para sejarawan lain yang memiliki kriteria yang berbeda-beda.
Kemudian negara yang terletak di Asia dan Timur Tengah dengan corak keagamaan yang kental seperti Islam dikelompokkan sebagai Dunia Timur. Sedangkan Australia, Kanada, Eropa, Selandai Baru dan Amerika serikat dikelompokkan sebagai Negara Barat. Hal ini lebih kepada kesamaan kebudayaan dan sejarah sehingga dalam hal ini letak kawasan sudah tidak relevan lagi. Sebut saja Negara Rusia yang letak geografisnya berada di wilayah Eropa dan Asia namun dalam perspektif geopolitik disebut sebagai Dunia Timur setara dengan Cina.
Negara yang letaknya jauh dari akar budaya barat adalah Australia, Selandia Baru dan Amerika. Karena di bidang politik kenegaraan dikuasai oleh penduduk keturunan Eropa dimana penduduk asli (lebih dekat dengan kriteria Timur) justru menjadi minoritas, dapat digolongkan sebagai Negara Barat.
Dari hal tersebut dapat dikatakan bahwa batasan dunia Timur dan Barat lebih bersifat kultural dan politik dibandingkan geografis. Sehingga telah menjadi konsensus umum bahwa negara yang corak budayanya mirip dengan budaya Islam dimana pun letaknya masuk kelompok timur dan Australia dan Selandia Baru masuk dunia barat karena budaya hasil impor bangsa-bagsa Eropa.
Batasan dikotomi ini menjadi bias ketika daerah dengan kebudayaan beragam seperti yang terjadi di daerah Balkan dan rumpun Kaukasus (perbatasan Asia dan Eropa). Di wilayah ini warganya dapat menyatakan dirinya bagian dari timur atau barat sesuai etnis dan agama yang dianut. Jika melihat karateristik fisik, manusianya lebih condong ke Eropa yang menjadi akar Negara Barat. Sebaliknya, dalam kehidupannya kental dengan budaya ketimuran.
Di daerah Balkan dan rumpun Kaukasus ini, dalam suatu negara terdapat kental budaya Islam dan Kristen. Bagian wilayah berpenduduk islam menganggap bagian dari timur sedangkan wilayah yang mayoritas Kristen mendeklarasikan sebagai bagian dari barat.
Dikotomi Timur-Barat sepertinya tidak jauh berbeda dengan istilah negara maju dan negara berkembang yang umumnya terletak di bagian bumi utara dan selatan. Namun lambat laun beberapa negara di Selatan Bumi mulai menjadi setara dengan negara maju sehingga istilah tersebut saat ini tidak relevan.
Nah, kondisi dunia yang dinamis dan multipolar seperti saat ini, dikotomi Timur-Barat tidak dimungkiri suatu saat mencair sendiri dan tidak dibutuhkan lagi karena sejalan perkembangan jaman budaya itu sendiri sifatnya dinamis.
Referensi:
https://sumantoalqurtuby.com/mitos-dikotomi-budaya-timur-dan-barat/
https://www.academia.edu/616571/Metaphorical_politics_Is_Russia_western