Hari AIDS Sedunia atau World AIDS Day diperingati setiap tanggal 1 Desember. Hari peringatan ini bertujuan agar kewaspadaan masyarakat akan HIV/AIDS terus meningkat di seluruh dunia.
Masyarakat pun diharapkan semakin kompak dalam memperlihatkan dukungan kepada orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA). Tidak menjauhinya, apalagi mengucilkan dan mendiskreditkan ODHA.
Dalam periode 2010 sampai 2020, sejatinya tren infeksi baru HIV di Tanah Air menurun hingga 43%. Jika pada 2010 kasusnya pernah mencapai 48.487, pada 2020 jumlah kasusnya lebih rendah, yakni 27.580 kasus.
Bagaimana dengan jumlah orang yang hidup dengan HIV? Ada sekitar 645.000 jiwa pada 2010. Kemudian, jumlahnya menurun menjadi 543.100 jiwa pada 2020.
Walaupun infeksi baru HIV menurun, World AIDS Day tetap menjadi momen penting untuk kita merenungi HIV/AIDS. Apalagi, jumlah perempuan non-populasi kunci yang mengalami infeksi justru meningkat.
Sebaliknya, beberapa populasi kunci, yakni mereka yang termasuk kelompok rentan penularan HIV, seperti transgender dan pengguna narkoba suntik, jumlahnya justru menurun.
Nah, bagaimana sebenarnya persepsi sejumlah masyarakat terhadap HIV/AIDS? Visi Teliti Saksama pada 29 November–14 Desember 2021 pun mengadakan survei mengenai persepsi akan HIV/AIDS.
Melibatkan 75 responden, survei ini menanyakan hal-hal sederhana terkait pengetahuan, pengalaman, dan sikap mereka terhadap HIV/AIDS. Responden didominasi perempuan (62,7%), domisili Jabodetabek (84%), usia 24-34 tahun (64%), dan pendidikan terakhir D3/S1 (72%).
Para responden juga mayoritas bekerja sebagai pegawai swasta (52%), sudah memiliki keluarga dengan anak (56%), serta berpengeluaran Rp1-5 juta per bulan (40%) dan Rp6-10 juta per bulan (37,3%).
Dari segi pengetahuan, sebesar 90,7% responden mengetahui kepanjangan dari HIV, yakni Human Immunodeficiency Virus. Lebih dari 80% responden juga memahami definisi HIV, yakni virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh.
Begitu juga kepanjangan dari AIDS, mayoritas menjawab dengan benar yaitu Acquired Immunodeficiency Syndrome (85,3%). Sebagian besar dari mereka juga memahami bahwa AIDS merupakan kumpulan gejala akibat lemahnya sistem kekebalan tubuh (74,7%).
Mengenai perbedaan HIV dan AIDS, lebih dari 80% paham, AIDS adalah kondisi yang disebabkan oleh HIV. Selebihnya menjawab kebalikannya, yakni HIV adalah kondisi yang disebabkan oleh AIDS.
Hampir 90% responden pun menjawab dengan tepat seputar cara-cara penularan HIV yakni penggunaan jarum suntik bekas, berhubungan seks tanpa pengaman, serta kehamilan-persalinan-menyusui. Sisanya masih menjawab, berjabat tangan dapat menularkan HIV.
Mayoritas juga mengetahui bahwa HIV/AIDS dapat ditangani oleh obat antiretroviral (ARV), meski jumlah yang mengetahui hal ini tidak mencapai 80% responden. Obat ARV adalah jenis obat yang mampu membuat virus lebih lambat berkembang.
Beranjak dari pengetahuan, responden ditanya sedikit soal pengalaman mereka seputar HIV/AIDS. Ternyata, 70% responden mengaku tidak pernah melakukan tes HIV sepanjang hidup mereka.
Hampir 90% responden juga mengaku tidak memiliki kerabat atau keluarga terdekat yang merupakan ODHA. Karenanya, mayoritas dari mereka juga belum pernah berpengalaman merawat ODHA (94,7%).
Berikutnya, responden diajak berandai-andai dengan sikap mereka terhadap HIV/AIDS. Jika orang terdekat mereka terkena HIV/AIDS, mereka paling banyak menjawab akan memberikan kata-kata semangat dan dukungan moral.
Sementara itu, mendampingi proses perawatan berada di posisi kedua. Baru setelahnya, menawarkan bantuan sesekali dan membiarkannya begitu saja menjadi pilihan ketiga dan keempat responden. Uniknya, tidak ada satu pun dari mereka yang memilih menghindari atau menjauhi penderita.
Lalu, bagaimana jika pasangan mereka (sudah menikah atau masih pacar) yang terkena HIV/AIDS? Daripada mengakhiri hubungan, sebagian besar dari mereka lebih memilih tetap melanjutkan hubungan. Tidak hanya itu, 80% responden pun tidak masalah dengan adanya kondom yang dijual bebas di minimarket.
Terakhir, mereka ditanyakan soal pembedaan terhadap ODHA di berbagai sektor seperti pendidikan, pekerjaan, kesehatan, bahkan lingkungan keluarga.
Ya, ODHA kerap mendapatkan label sosial yang berakibat pada tindakan diskriminasi. Hak ODHA pun akhirnya tidak terpenuhi, karena adanya perasaan takut yang berlebihan dari orang-orang di lingkungannya. Terhadap hal ini, 78% responden tidak setuju dengan adanya pembedaan tersebut.
Dari hasil survei ini, dapat kita rangkum, pengetahuan responden secara keseluruhan terkait HIV/AIDS sudah terbilang baik. Mereka paham apa itu HIV dan AIDS, perbedaan keduanya, dan perilaku apa saja yang berpotensi menularkan virus.
Namun, mayoritas responden belum pernah melakukan tes HIV. Mungkin, karena orang-orang terdekat mereka tidak ada yang merupakan ODHA, dan belum pernah ada ODHA yang mereka rawat, mereka belum terpikir untuk melakukan tes.
Jika ada orang terdekat yang sampai terkena HIV/AIDS, semua responden menjawab tak akan menjauhi atau menghindarinya. Bahkan, bersedia membantu mendampingi proses perawatan atau paling tidak, memberi dukungan moril.
Harus diakui, pandemi berkepanjangan seperti saat ini, membuat perjuangan ODHA makin berat. Mereka harus ekstra hati-hati lantaran bisa dihinggapi dua virus (HIV dan Covid-19) secara bersamaan. Jika belum mengonsumsi obat ARV hingga mencapai tingkatan supresi virus, risiko terkena covid-19 akan lebih besar lagi karena lemahnya sistem imun dalam tubuh.
So, simpati dan empati memang menjadi “barang” penting yang harus kita miliki dalam memperlakukan ODHA. Tanpa kedua rasa itu, kondisi ODHA bisa makin terjepit, lebih-lebih di tengah pandemi seperti ini. Kita tak mau mendengar juga kan, harus ada ODHA yang menyimpan dendam karena merasa terbuang oleh masyarakat.
Referensi:
Antara. (2021). Lepas lebih dari tiga dekade, mampukah Indonesia akhiri HIV di 2030? https://www.antaranews.com/berita/2584417/lepas-lebih-dari-tiga-dekade-mampukah-indonesia-akhiri-hiv-di-2030 Diakses 21 Desember 2021
Antara. (2021). Menjaga ODHA bertahan di tengah pandemi COVID-19 https://www.antaranews.com/berita/2578753/menjaga-odha-bertahan-di-tengah-pandemi-covid-19 Diakses 21 Desember 2021