Ilustrasi kredit perbankan. Shutterstock/dok
JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan, jumlah restrukturisasi kredit covid-19 melanjutkan tren penurunan menjadi hanya Rp251,21 triliun pada Januari 2024.
Angka ini turun sebesar Rp14,57 triliun jika dibandingkan dengan jumlah restrukturisasi kredit covid-19 pada bulan sebelumnya, yakni Desember 2023 yang sebesar Rp265,78 triliun.
"Seiring pertumbuhan perekonomian nasional, jumlah restrukturisasi kredit covid-19 melanjutkan tren penurunan menjadi sebesar Rp251,21 triliun," ujar Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae dalam RDKB Februari 2024 di Jakarta, Senin (4/3).
Saat nilai restrukturisasi kredit mengecil, jumlah nasabah pun turut susut 63 ribu peminjam menjadi 977 ribu nasabah dari 1,04 juta nasabah pada Desember 2023.
Baca Juga: Restrukturisasi Kredit Covid-19 Hampir Berakhir, BCA: CKPN Memadai
Jika menilik ke belakang, memang restrukturisasi kredit covid-19 terus mengalami tren penurunan. Pada Desember 2021, misalnya, jumlah restrukturisasi kredit covid-19 masih tercatat sebesar Rp663,48 triliun.
Kemudian setahun berselang atau pada Desember 2022, jumlahnya turun drastis menjadi Rp469,15 triliun. Lalu pada Desember 2023, jumlah restrukturisasi kredit covid-19 berhasil dipangkas setengah menjadi hanya Rp256,78 triliun.
Masih dalam kesempatan yang sama, Dian menyampaikan, kinerja industri perbankan Indonesia per Januari 2024 tetap resilien dan berdaya saing didukung oleh tingkat profitabilitas ROA sebesar 2,71% dan NIM sebesar 4,54%.
"Hal itu sejalan dengan kinerja perekonomian global yang membaik dengan tekanan cenderung stabil," katanya.
Dia melanjutkan, permodalan (CAR) perbankan relatif tinggi sebesar 27,54%. Hal ini diklaim menjadi bantalan mitigasi risiko yang solid di tengah kondisi ketidakpastian global.
Penurunan Intermediasi
Kendati demikian, dari sisi kinerja intermediasi, pada Januari 2024, secara mtm kredit mengalami penurunan sebesar Rp32,69 triliun menjadi Rp7.058 triliun, atau terkontraksi sebesar 0,46% dari Rp7.090 triliun pada Desember 2023.
"Ini merupakan siklus yang selalu terjadi setiap awal tahun (seasonal)," ungkap Dian.
Meskipun begitu, secara tahunan (year on year/yoy), kredit berhasil tumbuh double digit sebesar 11,83% (yoy) menjadi Rp7.058 triliun, dari sebelumnya Rp6.311 triliun.
Menurut Dian, pertumbuhan tersebut utamanya didorong Kredit Modal Kerja yang tumbuh sebesar 12,26% yoy. Sementara ditinjau dari kepemilikan bank, Bank BUMN menjadi pendorong utama pertumbuhan kredit, yaitu tumbuh sebesar 14,44% yoy.
Searah dengan kredit, Dana Pihak Ketiga (DPK) juga mengalami kontraksi secara bulanan, namun tumbuh positif secara tahunan.
"Pada Januari 2024, DPK tercatat kontraksi sebesar 0,50% mtm, tetapi naik sebesar 5,80% yoy dari Desember 2023 sebesar 3,73% yoy atau menjadi Rp8.415 triliun, dengan giro menjadi kontributor pertumbuhan terbesar, yaitu 8,17% yoy," urainya.
Baca Juga: Ini Strategi Bank Mandiri Jelang Restrukturisasi Covid-19 Berakhir
Likuiditas industri perbankan pada Januari 2024 disebut memadai dengan rasio-rasio likuiditas yang masih jauh di atas level kebutuhan pengawasan.
Selanjutnya, Rasio Alat Likuid/Non-Core Deposit (AL/NCD) dan Alat Likuid/Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) masing-masing turun menjadi 123,42% dan 27,79%, atau jauh di atas threshold masing-masing sebesar 50% dan 10%.
Sementara itu, kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio NPL net perbankan sebesar 0,79% dan NPL gross sebesar 2,35%.
Di sisi lain, dalam rangka penegakan hukum dan pelindungan konsumen di sektor perbankan, pada Februari 2024, OJK telah mencabut izin usaha PT BPR Usaha Madani Karya Mulia, PT BPR Bank Pasar Bhakti, Perumda BPR Bank Purworejo, dan BPR EDCCASH.
John Kiryuu
iyakah? astaga ngerinya