Berkuliah di luar negeri menjadi impian banyak orang, mungkin termasuk kamu. Ada sejumlah alasan yang melatarbelakanginya, mulai dari mengejar pengalaman hingga kesempatan kerja yang lebih baik.
Begitu pula bagi mayoritas orang yang disurvei oleh Visi Teliti Saksama pada periode 4-10 Februari 2022 secara daring. Dari 346 responden yang terlibat dalam survei, sebesar 86% mengaku berminat kuliah di luar negeri.
Namun, biaya kuliah di luar negeri tidaklah sedikit. Mendaftar beasiswa pun menjadi pilihan yang dapat ditempuh. Karenanya, dalam survei ini, kami utamanya menanyakan minat mereka terhadap beasiswa kuliah di luar negeri.
Responden kebanyakan merupakan laki-laki (80,3%) dan berdomisili di luar wilayah Jabodetabek (57,2%). Mereka didominasi oleh kelompok usia 19-25 tahun, diikuti oleh kelompok usia 26-30 tahun dan 31-35 tahun.
Tamat SMA/Sederajat dan tamat D3/S1 menjadi status pendidikan mayoritas responden saat ini. Mereka juga kebanyakan bekerja sebagai pegawai swasta, disusul dengan pelajar/mahasiswa.
Kondisi saat ini, sebagian besar responden tidak sedang berkuliah di luar negeri, tidak sedang berkuliah di dalam negeri, bukan lulusan kampus di luar negeri, dan juga bukan lulusan kampus dalam negeri. Persentasenya masing-masing lebih dari 50%.
Lalu, pernahkah responden mendaftar beasiswa kuliah?
Mayoritas menjawab belum pernah sama sekali, baik untuk kuliah di dalam maupun luar negeri (63%). Kebanyakan alasannya karena memang belum ada kesempatannya. Alasan terbesar berikutnya, ternyata karena mereka tidak cukup percaya diri untuk mendaftar.
Namun, ketika ditanyakan perihal kemungkinan untuk mendaftar beasiswa kuliah di dalam maupun luar negeri suatu hari nanti, mereka banyak menjawab ada kemungkinan.
Sementara itu, bagi responden yang baru pernah mendaftar beasiswa kuliah dalam negeri saja (28%), mereka paling banyak mengincar beasiswa untuk jenjang S1. Gagal memperoleh beasiswa sudah pernah dialami oleh mayoritas mereka.
Perihal alasan belum pernah mendaftar beasiswa kuliah di luar negeri, kebanyakan menjawab belum ada kesempatannya, dan berikutnya karena tidak percaya diri. Meski begitu, sebagian besar merasa ke depannya ada kemungkinan untuk mencoba mendaftar beasiswa kuliah di luar negeri.
Kelompok responden yang punya pengalaman mendaftar beasiswa kuliah untuk keduanya, yakni dalam dan luar negeri, sebesar 5%. Jenjang S1 menjadi jenjang yang paling banyak disasar baik untuk dalam dan luar negeri.
Inggris menjadi negara tujuan kuliah paling diincar, disusul dengan Singapura, Jepang, dan Malaysia. Pada kelompok ini, kurang dari 40% yang pernah berhasil memperoleh beasiswa, masing-masing untuk dalam dan luar negeri.
Terakhir, hanya 4% yang pernah mendaftar beasiswa kuliah di luar negeri saja. Mereka paling banyak mengincar beasiswa dari pemerintah negara tujuan kuliah dan untuk jenjang S2/S3.
Dalam kelompok ini, Inggris juga menjadi negara tujuan kuliah mayoritas responden, jauh di atas negara-negara lainnya. Namun, hanya 35% dari mereka yang punya pengalaman berhasil memperoleh beasiswa di luar negeri tersebut.
Seperti yang kami sebutkan di awal artikel, 86% responden secara pribadi ingin kuliah di luar negeri. Alasan terbanyaknya adalah karena kuliah di luar negeri menjanjikan kesempatan karier yang lebih baik. Selain itu, mendapatkan pengalaman belajar di kampus luar negeri dan bisa belajar bahasa asing juga menjadi alasan terbanyak selanjutnya.
Sementara itu, bagi 14% responden yang tidak berminat kuliah di luar negeri, paling banyak beralasan tidak ingin jauh dari keluarga. Alasan terbanyak berikutnya adalah ingin bekerja di dalam negeri dan biaya hidup yang dirasa mahal meskipun mendapat beasiswa.
Pada akhirnya, berkuliah di luar negeri baik dengan beasiswa maupun tidak tentu adalah sebuah tantangan. Jika kamu tidak berminat mengambil tantangan itu, tidaklah mengapa.
Namun, bagi mereka yang mendambakannya dengan alasan apapun, berkuliah di luar negeri pun layak diperjuangkan.