Ilustrasi bioskop dan musisi. Shutterstock/Soho A Studio/Andrei Armiagov
“Lo mau beli tiket buat nonton konser Taylor Swift, gak?”
“Bukannya gak jadi konser di Indonesia?”
“Nonton konser yang di bioskop aja.”
“Hah, emang bisa nonton konser di bioskop?”
Bisa, Sobat Valid! Saat ini bioskop sudah memperlebar fungsinya. Tadinya tempat ini memang hanya identik dengan pemutaran film. Namun, kini para pengunjung dapat menyaksikan karya-karya dari para musisi di sini. Mulai dari rekaman-rekaman konser yang difilmkan, hingga dokumentasi perjalanan karier semua bisa ditonton di bioskop layaknya sebuah konser.
Seperti apa awal perluasan pasar bioskop ini, dan bagaimana potensinya bagi industri musik di masa depan?
Keruntuhan Industri Pertunjukan
Ranah pemasaran baru bioskop ini bisa jadi mulai menguat pascapandemi covid-19 yang melumpuhkan dunia sejak awal 2020. Kala itu, hampir seluruh bidang industri mengalami pelemahan. Industri pertunjukan, dalam hal ini bioskop menjadi salah satu yang sangat terdampak, sebagaimana pembatasan sosial secara langsung menekan pendapatan bisnis.
Kerumunan di area indoor dilarang selama beberapa lama, termasuk menonton di bioskop. Ketika mulai diizinkan pun, terdapat banyak aturan yang membuat pengunjung tak lagi leluasa menikmati tontonan. Pada masa-masa itu, para produsen film kemudian mulai bereksperimen memasarkan produknya pada berbagai sarana alternatif.
Perlahan terjadi perubahan pola distribusi pada studio-studio produksi film. Mereka mulai lebih memprioritaskan perilisan filmnya di platform streaming dan mengurangi waktu penayangan di bioskop. Hal ini juga disambut pergeseran kebiasaan para konsumen yang semakin sering mengonsumsi layanan streaming alih-alih datang ke bioskop untuk menonton.
Studi yang dilakukan oleh The Trade Desk pada 2022 menunjukkan bahwa hampir 1 dari 3 orang Indonesia menggunakan layanan streaming over-the-top (OTT). Jumlah konsumsi nasional layanan ini pun fantastis, mencapai 3,5 miliar jam konten tiap bulannya. Ini menjadikan Indonesia negara dengan konsumsi OTT tertinggi di Asia Tenggara, dengan peningkatan pertumbuhan sebesar 40% dibanding tahun sebelumnya (Puspita, 2022).
Sebaliknya, pada masa pandemi cuan bioskop merosot tajam. Data dari filmindonesia.or.id menunjukkan bahwa jumlah penonton terus menurun sejak 2019 hingga 2021.
Berdasarkan 15 film dengan penonton terbanyak setiap tahunnya, jumlah penonton bioskop yang pada 2019 mencapai 29.646.453 menurun 60% menjadi 12.059.127 pada tahun 2020.
Penurunan lebih parah terjadi pada tahun selanjutnya, yakni sebanyak 80%, sehingga jumlah penonton tahun 2021 hanya mencapai angka 2.457.456.
Tak hanya bisnis bioskop, industri musik pun digoyahkan pandemi. Pasalnya, acara pertunjukan musik langsung seperti konser dan festival dinilai tak aman karena menimbulkan kerumunan yang rentan menyebarkan virus.
Dengan dilarang dan dibatalkannya sejumlah tur, konser, dan festival, industri ini pun mengalami kehilangan cuan dalam jumlah besar. Dilansir dari PricewaterhouseCoopers (PWC), industri live music semestinya diproyeksikan mampu meraih untung hingga US$28,8 miliar pada 2020. Apa daya, pandemi menggagalkannya.
Para musisi independen kemudian jadi korban keadaan. Begitu juga para karyawan yang bekerja di industri terkait, seperti manajer tur musik, sound engineer, hingga anggota kru lainnya. Apalagi mereka yang bekerja di balik layar ini tak memiliki kepopuleran seperti para musisi yang mempekerjakannya.
Mencari Solusi Lewat Teknologi
Sedikit mujur bagi mereka yang bergerak di industri musik, karena masih ada sejumlah celah yang bisa tetap dimanfaatkan sebagai sumber pendapatan. Hal ini didukung dengan perkembangan teknologi yang memungkinkan para musisi untuk membuat pertunjukan secara online, sebagai jalan keluar dari masalah pembatasan sosial.
Teknologi live streaming yang jadi rival industri bioskop di era pandemi, dalam hal ini malah menjadi alternatif bagi pelaku industri musik. Walaupun, sebenarnya teknologi ini bukan hal yang baru di dunia pertunjukan musik dan pernah diaplikasikan sebelumnya, meski tidak rutin. Misalnya saja, apa yang dilakukan seniman asal Iran, Ash Koosha pada 2017.
Kala itu Presiden Donald Trump memberlakukan pelarangan warga negara Iran, Irak, Libya, Somalia, Sudan, Syria, dan Yemen untuk masuk ke wilayah Amerika Serikat. Padahal Ash Koosha memiliki rencana pertunjukan di negara tersebut. Sebagai solusi, ia bekerja sama dengan sebuah perusahaan pemberi layanan virtual reality bernama The Wave VR untuk menggelar pertunjukan secara virtual sehingga mampu menjangkau audiens global.
Tak hanya pertunjukan, teknologi–dan internet–juga semakin mempermudah musisi untuk menjalin kedekatan dengan basis penggemarnya. Dengan melakukan live streaming secara rutin dan lebih santai di platform-platform tertentu, seniman menjaga loyalitas penggemarnya sekaligus meraih pundi-pundi keuntungan lewat monetisasi engagement.
Satu tantangan bagi para musisi yang mulai menjajaki pemanfaatan teknologi adalah arena kompetisi yang sangat besar. Ketika melakukan live streaming atau memproduksi konten lainnya, seorang musisi harus bersaing dengan jutaan video lain di internet. Strategi yang tepat lagi-lagi harus dipikirkan untuk memasarkan karya, dan dalam hal ini harus berjibaku dengan algoritma platform di internet yang sangat dinamis.
Tak hanya itu, walau teknologi bisa menjadi sarana bagi para musisi menyelamatkan pekerjaannya sekaligus menambah pendapatan tambahan, ia justru berdampak negatif bagi pekerja lainnya di industri musik. Sebut saja sejumlah orang yang menggantungkan hidupnya dari penghasilan sebagai kru konser atau pertunjukan langsung lainnya. Solusi untuk menyelamatkan mereka masih tetap harus dipikirkan.
Menata Ulang Konsep Berkumpul
Berbeda dengan para musisi yang bisa melipir dengan kemajuan teknologi, pelaku industri bioskop harus terus memutar otak pada masa pandemi. Apalagi sejak menanjaknya industri OTT, produsen film mulai mengubah pola distribusi dan Hollywood tak lagi jadi mitra yang bisa diandalkan. Inovasi mau tak mau harus dilakukan, dan pilihannya hanya dengan menggodok ulang fungsi ruang mereka bagi publik.
Bioskop tak bisa lagi hanya digunakan untuk memutar film, namun juga harus bisa memfasilitasi hiburan lain yang mungkin diinginkan masyarakat. Inisiatif demi inisiatif dimunculkan. Salah satunya yang dilakukan oleh Classic Cinemas, sebuah jaringan bioskop dengan 15 lokasi di Chicago, Amerika Serikat.
Demi bertahan, jaringan bioskop ini menggagas sejumlah acara khusus, seperti streaming pertandingan tinju hingga menyewakan layar untuk masyarakat yang berminat ikut serta dalam pertandingan sepakbola virtual.
“Idenya adalah membawa bioskop menjadi lebih dari tempat berkumpul,” ujar Chris Johnson, Kepala Eksekutif jaringan bioskop tersebut, dilansir dari The Wall Street Journal (8/10/2021).
Johnson mencoba menarik konsep berkumpul menjadi momentum yang lebih intim. Hal ini hanya dapat dilakukan jika anggota perkumpulan terdiri dari orang-orang yang memiliki persamaan. Misalnya sama-sama menggemari olahraga tertentu, atau lebih spesifiknya basis penggemar klub olah raga tertentu.
Dengan mengotak-kotakkan audiens sesuai karakteristiknya, penggunaan ruang bioskop terasa lebih eksklusif pada setiap acara yang berbeda. Booking studio dilakukan dengan penyesuaian kegiatan atau tontonan yang ingin dinikmati bersama peer group. Pengalaman sebagai bagian kelompok tertentu ini menjadi daya tarik tersendiri untuk pengunjung dan menciptakan pasar baru bagi bioskop.
Di Indonesia, sebagai pelaku industri bioskop yang dapat dikatakan cukup inovatif dan juga mengusung strategi segmentasi adalah Cinépolis. Hal ini terlihat dari keunikan jaringan ini dalam membagi dan menata ruang-ruang teaternya ke dalam beberapa kategori sesuai kebutuhan.
Misalnya, terdapat kategori Cinépolis Junior yang menyediakan sejumlah wahana permainan anak pada teaternya. Mainan-mainan tersebut bisa dicoba oleh para pengunjung anak sebelum film mulai ditayangkan. Tak hanya itu, tempat duduk teater pada kategori ini pun dibuat santai dan berwarna-warni yang tentu menarik bagi anak-anak.
Selain Cinépolis Junior, ada beberapa jenis kategori teater lainnya yang dimiliki Cinépolis selain studio regulernya. Kategori-kategori tersebut yakni Cinépolis VIP, Cinépolis Makro XE, Cinépolis Luxe, dan Cinépolis Jomo.
Kesempatan Come-Back Bersama
Tak hanya melalui pembagian kategori teater, konsep bioskop sebagai tempat berkumpul yang lebih tersegmentasi juga diwujudkan Cinépolis dengan mewadahi acara-acara tertentu. Seperti yang dilakukan jaringan bioskop ini pada November 2023, yakni memfasilitasi acara yang diinisiasi fanbase Taylor Swift Indonesia.
Cinépolis menyewakan satu teater eksklusif sekaligus arena terbuka mereka kepada basis penggemar Mbak Taylor tersebut untuk mengadakan selebrasi sekaligus private screening bersama, menyambut masuknya Film Konser The Era’s Tour ke jaringan bioskop tanah air. Venue berupa lorong teras bioskop dilengkapi berbagai dekorasi yang membuatnya menjelma bak pameran.
Gayung bersambut, dari ratusan tiket acara yang dijual di venue Jakarta, Bandung, dan Surabaya, semuanya ludes terbeli. Tak ayal, seperti ketagihan, fanbase ini kembali menggelar acara nonton bareng pada pekan terakhir penayangan film konser tersebut di Indonesia. Kali ini acara digelar dengan tajuk ‘Gala Encore’, dan Cinépolis masih menjadi sarana pilihan.
Dalam acara terkait (4/11), Manajer on Duty Cinépolis Senayan Park Jakarta Karda Nehru tak menampik bahwa acara-acara musik merupakan opportunity tersendiri bagi bisnis bioskop. Ia pun mengatakan bahwa Cinépolis membuka lebar kesempatan kolaborasi antara kedua industri ini.
“Kalau kami tentu saja ini kami buka untuk semua ya. Dari internasional, lokal, bahkan musisi daerah juga bisa gunakan agar mempunyai pasar yang luas. Asalkan mereka juga berani untuk go public dan punya fanbase yang cukup banyak, tentu terbuka kesempatan,” jelasnya pada Validnews.
Karda juga menambahkan, ada beragam kegiatan yang dapat dilakukan sebagai persilangan musik dan bioskop.
“Seperti konser musik, kemudian juga press conference, dan lain sebagainya, launching album, bisa dilakukan di dalam bioskop. Karena sebetulnya sinema bioskop itu bisa dipergunakan untuk audio maupun visual.”
Penjelasan Karda tersebut menekankan logika yang kerap dilewatkan masyarakat ketika mengingat bioskop. Bahwa meski selama ini sangat identik dengan film dan tampilan visual suatu tontonan, fungsi audio juga merupakan keistimewaan bioskop. Apalagi dengan sistem audio bioskop yang terus dikembangkan dari masa ke masa.
Kini, mayoritas audio bioskop sudah didukung dengan sistem audio Dolby Atmos. Penggunaan sistem suara yang dikembangkan oleh Dolby Laboratories ini mampu menciptakan suara 3D yang memberikan pengalaman menyaksikan yang nyata dan imersif bagi para penonton. Sistem ini sudah digunakan pada setidaknya lebih dari 70 judul film besar studio Hollywood.
Makanya, ketika belakangan difungsikan sebagai sarana penayangan film konser, antusias penggemar bisa dikatakan membludak. Bahkan bisa jadi melebihi film-film pemuncak box office pada umumnya. Selain kualitas suara mumpuni yang dikeluarkan fasilitas audio pada bioskop, penonton juga bisa merasakan pengalaman yang mirip dengan menghadiri konser secara langsung, yakni bernyanyi bersama penggemar lainnya.
Ilustrasi pameran televisi dengan teknologi audio Dolby. Shutterstock/Peter Kovacs Imagery |
Bahkan pada satu sisi, penonton film konser di bioskop justru lebih diuntungkan. Mereka bisa lebih jelas menyaksikan musisi idolanya di layar lebar secara lebih jelas dari berbagai angle yang sudah melalui berbagai proses editing, sehingga tentunya lebih enak dilihat mata.
Pengalaman ini tentu tidak bisa dirasakan ketika penggemar dibandingkan menonton langsung konser. Di konser langsung, penonton hanya bisa melihat musisi lewat satu sisi. Beruntung bagi penggemar yang berada di lokasi yang dekat dan strategis untuk melihat sang idola. Tapi bagaimana bagi penggemar yang harus berjarak ratusan meter dari sosok yang ingin ditontonnya? Tentu harus cukup puas melihatnya dari kejauhan, atau layar sebagai bantuan visual.
Mengingat harga tiketnya yang jauh lebih murah dari tiket konser, menonton film konser menjadi jalan ninja yang apik bagi para penggemar yang ingin berhemat. Atau juga menjadi solusi bagi mereka yang ingin ngonser tapi tidak bisa mewujudkannya, entah karena punya acara lain pada tanggal konser ataupun kehabisan tiket. Atau bahkan bagi mereka yang sekadar ingin merasakan sensasi baru.
Model perkawinan antara bisnis musik dan bioskop yang satu ini jadi inspirasi tersendiri. Dari sisi bioskop, tentu ini adalah ranah inovasi dan pelebaran sayap, dibandingkan harus bergantung dengan stok yang ingin didistribusikan oleh para produsen film. Di lain sisi, film konser juga merupakan ide brilian bagi industri musik, apalagi pada masa di mana sejumlah industri sudah mulai bangkit dari pandemi seperti ini.
Meskipun teknologi sudah memanjakan dan membangun kebiasaan musisi berpromosi dengan jalur streaming, faktor pengalaman menyanyi bersama merupakan hal yang tak kalah penting bagi para fans. Beruntung seiring berlalunya pandemi, pertunjukan bisa kembali digelar dan didokumentasikan.
Jika sebelumnya dokumentasi-dokumentasi konser dan pertunjukan musik lebih banyak ditawarkan pada penggemar dalam media penyimpanan seperti kepingan VCD atau DVD, kini keberadaan bioskop bisa memberikan experience lebih bagi penggemar. Meski tak berada di ruang yang sama dengan sang idola, setidaknya penggemar tetap bisa merasakan sensasi bernyanyi bersama.
Perluasan fungsi bioskop dan perjodohannya dengan musik kemudian menjadi simbiosis mutualisme bagi kedua industri. Dan selain menjadi ruang tersendiri untuk menambah cuan, konsep ini juga cukup fair untuk memberi pendapatan lebih bagi kru teknisi yang turut andil memproduksi. Alih-alih melakukan berbagai hal sendiri ketika berpromosi streaming, dengan model pemasaran ini musisi bisa lebih ‘berbagi’.
Sampai saat ini sejumlah film konser yang hadir di layar lebar masih didominasi oleh musisi besar internasional. Namun bukan tak mungkin jika ke depannya musisi nasional dan lokal juga turut serta meramaikan konsep kolaborasi ini, terutama bagi mereka yang namanya sudah melegenda dan memiliki basis penggemar berjumlah lumayan.
Inisiasi sebenarnya bisa dimunculkan tak hanya dari pelaku industri musik. Institusi-institusi pemerintah yang bergerak di bidang seni dan kreatif seharusnya dapat mendukung atau memfasilitasi acara-acara dengan model ini. Sebab, bagaimanapun, ini menjadi salah satu saluran alternatif modern yang ideal untuk menggaungkan karya anak bangsa.
Referensi:
Dolby. (n.d.). What is Dolby Atmos? Retrieved from Dolby.
Macedo, A. (2020, Oktober 9). Quarantine Marketing Battle 2020. Retrieved from Berklee College of Music - Music Business Journal.
Nehru, K. (2023, November 4). Manager on Duty Cinepolis Senayan Park. (Novelia, Interviewer)
Puspita, D. C. (2022, November 9). Distribusi Film Tanah Air: Keberlanjutan Bioskop dan Perkembangan Layanan Streaming. Retrieved from Universitas Airlangga.
Roche, A. (2020, Juli 10). Keeping Music in Time During COVID-19. Retrieved from Berklee College of Music - Music Business Journal.